Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2013

Media Publikasi Yang Efektif


Selama ini publikasi yang dijalankan oleh LDK kami justru berdampak kontraproduktif dengan dakwah, dan bisa dikatakan tidak efektif, hal ini bisa dilihat dengan respon yang diberikan oleh objek dakwah. Bagaimana cara mengatasi permasalahan publikasi ini ? 

Dakwah dalam artian bahasa berarti menyampaikan dan dalam bahasa inggris dapat diterjemahkan dalam kata marketing. Sebuah makna yang menurut hemat saya sangat tepat, karena pada konteks dakwah kita di kampus, apa yang kita lakukan di kampus adalah memang memarketisasi dakwah itu sendiri.  Dengan berbagai varian metode yang digunakan dan dengan berbagai cara pengemasan isi dari dakwah itu sendiri. Beruntunglah Islam diturunkan oleh Allah dalam keadaan sesempurna mungkin, sehingga isi dari dakwah atau konten dakwah yang kita lakukan sudah terdapat di Al Qur’an dan As Sunnah. Tinggal bagaimana kita sebagai da’I pandai merekayasa metode yang tepat agar objek dakwah dapat tertarik dan mudah untuk memahami isi dari dakwah yang dilakukan.

Salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam memarketisasi dakwah adalah cara publikasi yang dilakukan oleh lembaga dakwah agar objek dakwah mendapat kesan yang tepat tentang Islam itu sendiri. Seperti yang sering di perlihatkan di media massa, Islam sering kali di korelasikan dengan fundamentalis, teroris dan anti-kedamaian.  Itu semua merupakan buah dari suksesnya media mempermainkan Islam itu sendiri. Sehingga sudah menjadi tanggung jawab bagi kita seorang da’I untuk bisa meng-antitesis paradigma Islam yang salah dengan merekayasa media yang bisa digerakkan dengan harapan ada perubahan opini di masyarakat tentang Islam.

Disini bisa kita lihat bahwa dengan membuat publikasi yang efektif dalam men-syiar kan Islam adalah sebuah cara tersendiri untuk membangun citra Islam. Selain itu publikasi juga berperan dalam memainkan opini dan propaganda di sebuah komunitas. Sebutlah dalam konteks kampus, lembaga dakwah bisa mengadakan publikasi terkait opini tertentu, seperti gerakan mengenakan jilbab untuk muslimah, dimana ada ekskalasi permainan kata-kata dan gambar sehingga objek dakwah bisa mengikuti opini yang digerakkan.

“hari gini gak pake jilbab ?”
“karena diriku berharga, maka jilbab menjadi pilihanku”

Atau bisa dengan mempermainkan dalam gambar dengan tampilan komposisi warna dan kata yang tepat. Saya berpendapat bahwa lembaga dakwah kampus harus bisa menampilkan Islam yang humble sehingga objek dakwah lebih tertarik. Pilih kata-kata yang tepat untuk mempermainkan opini. Bisa juga dengan sebuah agenda tertentu, seperti jilbab and koko day yang di brand kan dengan J-co day. Dengan citra yang baik ini tentu resistensi objek dakwah akan jauh berkurang, dan ketika objek dakwah sudah jatuh hati  dengan citra yang dibangun, maka selanjutnyan untuk menanamkan nilai Islam lebih lanjut akan lebih mudah untuk dilakukan. Bentuk lain dari permainan opini dan propaganda, terkait Ujian bersih, ini bisa dilakukan menjelang pekan UAS atau UTS. Bentuk media bisa beragam, dari yang berbentuk fisik hingga maya, dan berbagai varian ukuran pula tentunya. 

Bisa Anda lihat dari beberapa publikasi yang ditampilkan, bahwa permainan kata dan warna sangat berperan, memang terkadang untuk publikasi atau promosi membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di GAMAIS kami menghabiskan sekitar 40% dari total dana untuk promosi dan publikasi, karena memang inilah yang juga menjadi poin penting dalam membangun basis massa simpatisan.

Peran publikasi lainnya adalah untuk menginformasikan sebuah kegiatan kepada masyarakat kampus. Hal penting yang perlu diperhatikan selain desain dan pemilihan kata adalah isi dari publikasi itu sendiri, seperti; (1) waktu; (2) tempat; (3) acara; (4) contact person; (5) kelebihan acara ini. Kelima unsure publikasi acara ini harus ada dalam setiap publikasi acara agar tidak terjadi asymmetric information pada objek dakwah. Berikut adalah beberapa contoh publikasi acara yang telah dikemas dengan baik dan telah terbukti berhasil mendatangkan simpatisan objek dakwah.


Pemilihan media publikasi
  1. Poster
Poster merupakan sebuah media fisik ( biasanya menggunakan kertas ) dengan ukuran A4,A3, dan A2. Dipasang atau ditempel di papan pengumuman atau ditempat umum lainnya. Keuntungan poster adalah dapat dicetak dalam jumlah banyak dan jika di tempatkan di lokasi-lokasi strategis akan membentuk sebuah nuansa tersendiri. Selain itu poster bisa dicetak dalam bentuk hitam putih maupun berwarna, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lembaga dakwah. Varian dari poster sangat beragam, peragaman bentuk poster yang tidak harus persegi empat juga bisa menjadi bahan kreasi, seperti membuat poster berbentuk segitiga atau lingkaran yang membuat ”eye catching” tersendiri. Peragaman lain bisa dengan memodifikasi tempat menempel, sebagai contoh dalam sebuah mading kampus. Dimana semua papan madding ditempel terlebih dahulu dengan kertas putih, dan ditengah-tengahnya baru ditempel satu buah poster full color, cara ini membuat kesan tersendiri.
Contoh poster :

  1. Baliho
Publikasi dalam ukursan besar, dan dengan bahan yang berkualitas tentunya. Baliho mempunyai keunggulan dari segi ukuran dan menimbulkan kesan “wah” pada sebuah agenda tertentu. Karena biasanya baliho hanya dipasang satu buah atau maksimal dua buah saja di kampus, maka desain yang diberikan haruslah yang terbaik. Isi pesan harus tepat dan kesan yang ditimbulkan dengan permainan warna dan desain ( serta ukuran tentunya ) juga akan berdampak pada objek dakwah. Baliho ini juga bisa membentuk kesan hegemoni terhadap dakwah pula.
Contoh baliho :

  1. Pamflet / Leaflet
Pesan atau publikasi dalam ukuran kecil. Varian dari pamphlet atau leaflet sangat beragam, dapat dibentuk dalam rupa kertas tausiyah, pembatas buku, kartu ucapan, stiker, dan sebagainya. Walau memang bentuk dasar pamphlet adalah semacam brosur dan bentuk dasar leaflet adalah poster dalam ukuran kecil. Pamflet dan leaflet ini di desain untuk diberikan kepada seluruh objek dakwah, atau bisa dikatakan lebih personal. Sehingga jumlah produksi dari jenis media ini dalam jumlah yang sangat besar, disesuaikan dengan jumlah objek dakwah itu sendiri.
Contoh pamphlet dan leaflet :

  1. Banner
Jenis media ini bisa bercabang menjadi dua jenis, yakni vertical banner atau sering dikenal dengan umbul-umbul, dan horizontal banner  yang sering disebut dengan spanduk.  Pada masa kini harga produksi untuk spanduk  dan umbul-umbul dengan kualitas printed sudah sangat terjangkau. Harga spanduk sekitar Rp.100.000 per  spanduk dan umbul-umbul sekitar Rp.20.000 per umbul-umbul. Selain itu karena kemudahan teknologi printing ini, alangkah baiknya jika spanduk dan umbul-umbul di desain dengan full warna, atau dengan komposisi gambar dan foto untuk memberikan kesan elegansi dakwah
Contoh banner :

  1. Instalasi
Bentuk media kreatif yang sangat nyeni.  Bisa dalam bentuk semacam patung dari kertas dan bambu, balon udara, lampion, seni dari sampah atau botol bekas dan lainnya. Memang untuk membuat instalasi membutuhkan ketekunan dan bakat seni tersendiri, maka dibutuhkan pula kader yang mempunyai sense of art yang baik. Varian dari instalasi sangat beragam, akan tetapi pastinya instalasi adalah sesuatu yang bisa dipajang.
Contoh instalasi :

  1. Buletin
Buletin adalah media tertulis yang memungkinkan untuk memuat banyak tulisan dan pesan. Biasanya buletin bertransformasi dari bentuk kertas A4 di lipat dua, lalu lebih dai satu A4 yang ditumpuk sehingga tampak seperti buku, lalu bertrasformasi akhir seperti sebuah majalah. Terkait buletin sangat banyak varian isi yang bisa dikembangka seperti rubrik khusus,komik,  profil kader, TTS, tips n trick, kisah, humor, tausiyah dan berbagai lainnya. Referensi untuk buletin bisa dari majalah atau tabloid umum yang beredar, coba adopsi hal-hal yang bisa menjadi daya tarik tersendiri dalam penyampaian pesan Islam kepada objek dakwah.
Contoh bagian dari buletin :

  1. Multimedia
Pemanfaatan dunia maya sebagai media publikasi, seperti dengan website, blog, CD interaktiif, slide powerpoint, film, music, animasi dan lainnya. Multimedia saat ini sedang berkembang pesat, dan jika lembaga dakwah bisa memanfaatkan hal ini dengan baik, maka akan menjadi competitive advantage tersendiri bagi lembaga dakwah tersebut. Keuntungan dari multimedia adalah biaya yang murah, bahkan bisa cenderung gratis, hanya memang membutuhkan keahilian khusus untuk bisa membuat media advance ini.


Pengelolaan Publikasi
  1. Content
Isi atau value yang akan disampaikan, biasanya ini tidak menjadi terlalu sulit karena pedoman kita dalam berislam sudah sangat jelas dan tegas, sehingga Anda tinggal perlu mengemasnya dengan baik. Ada sebuah catatan tambahan saja tentang prinsip syiar di kampus, yakni give what they need atau berikan apa yang objek dakwah butuhkan. Terkadang lembaga dakwah sering kali menjalankan agenda syiar yang tidak sesuai dengan kebutuhan dari objek dakwah sehingga terjadi miss match antara demand and supply, dan berakibat pada ketidaktertarikan objek dakwah terhadap agenda yang dilakukan. Pengalaman saya melihat bahwa terkadang kita perlu berpikir sebagaimana objek dakwah dan konsekuensi nya adalah kita perlu menurunkan sedikit standar keIslaman kita untuk bisa memahami kebutuhan objek dakwah. Anda tidak bisa langsung memberikan materi yang berat kepada objek dakwah, harus dimulai dari sesuatu yang ringan terlebih dahulu. 

  1. Packaging
Pengemasan disini meliputi beberapa hal , antara lain ;
(1)     Pemilihan kata, dimana sangat penting untuk membuat opini tertentu. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami dan diingat. Bisa jadi dengan menggunakan istilah yang sedang berkembang di masyarakat umum bisa membantu untuk mempermudah objek dakwah megingat pesat yang kita sampaikan.
(2)     Pemilihan desain, pilihlah desain yang lembut dan tenang sehingga objek dakwah bisa melihat citra Islam yang bersahabat. Pilih pula warna yang sesuai, warna cerah bisa menjadi solusi untuk membuat citra menyenangkan.
(3)     Pemilihan bentuk media, media yang digunakan juga harus sesuai, coba pilih media yang sekirannya unik dan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi objek dakwah.

  1. Branding
Penamaan dalam sebuah publikasi sangat penting, biasanya GAMAIS memiliki nama tersendri untuk setiap agendanya dan bisa berubah setiap tahunnya, semua dilakukan untuk me-refresh citra yang ada walau memang untuk beberapa agenda yang sudah menjadi tradisi selalu kami gunakan penamaan yang sama. Sebagai contoh penamaan atau branding ;
·         Mentoring diberi brand  Islamic Learning Group
·         Penyambutnan Mahasiswa Baru diberi brand Look Inside my Environment
·         Syiar Ramadhan diberi brand Ramadhan Festival atau METAMORPHISIS
·         Agenda Idul Adha diberi brand BBQ ( bagi-bagi Qurban )
·         Agenda sumbangan sosial diberi brand PAY 1 GET 2
·         Agenda pembinaan kader diberi brand OASIS, GAMAIS Integrated Training, GAMAIS Super Camp, Youth Islamic Student Camp, Diklat Mahasiswa Muslim, Syahrut Tarbiyah GAMAIS.

  1. Positioning
Setelah membuat media beserta isinya, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah penempatan dari media itu sendiri. Dimana penempatan media jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit, perhatikan juga rasio antara media publikasi dengan objek dakwah. Perhatikan pula rasio keterjangkauan objek dakwah, rasio jarak perjalanan di kampus, rasio ruang kuliah dan pusat massa, range waktu mobiliasi mahasiswa, rute utama sirkulasi mahasiswa, gedung kuliah utama dan sekunder, dan kondisi sosial budaya dari mahasiswa di kampus Anda.

  1. Impact
Hasil atau dampak dari publikasi yang dijalankan. Jika publikasi yang dilakukan bersifat isu atau opini, maka dampak yang diharapkan adalah adanya perubahan opini di objek dakwah. Dan jika publikasi yang dilakukan bersifat informasi acara maka parameter keberhasilannya adalah dengan jumlah yang hadir dalam acara tersebut. Buat perangkat penilaian khusus akan dampak yang terjadi. Untuk publikasi isu bisa menggunakan perangkan angket untuk menilai keberhasilan publikasi, sedangkan perangkat lembar absensi acara bisa digunakan untuk menilai keberhasilan publikasi yang bersifat informasi acara.


Analisis Problematika Dakwah Kampus (Ridwansyah Yusuf)

Minggu, 09 Desember 2012

Buletin SHAF (Rejected)

coba-coba layout buletin.. *first time :)


halaman 1

halaman 2

halaman 3

halaman 4

Sekolah Media FSLDK Jadebek (Sabtu, 1 Desember 2012)

Pada Sabtu, 1 Desember 2012 lalu FSLDK Jadebek mengadakan kegiatan Sekolah Media bertempat di  Universitas Budi Luhur, Ciledug dengan tema "Optimalisasi Peran Media dalam Memajukan Syi'ar Islam". Agenda ini bertujuan untuk menularkan semangat kepada teman-teman LDK agar setiap LDK terutama yang berada di daerah Jakarta, Depok dan Bekasi dapat semakin memaksimalkan potensi media cetak maupun media online untuk syiar Islam.

Detail Materi :

Materi 1 : Pembuatan Media Cetak

Dibawakan oleh : Ketua Nuraniku UNJ 2012
Detail Materi : 
- Proses Produksi sampai distribusi majalah atau buletin
- Pelaku-pelaku yang terlibat
- Jenis-Jenis Media Cetak
- Kendala-Kendala
Download Materi "Pembuatan Media Cetak"

Metari 2 : Pembuatan Media Online

Dibawakan oleh Tim IT Binus University (diketuai oleh Akhina Whindu Lisersa)
Detail Materi : 
- Mengapa memakai wordpress
- Cara instalasi wordpress
- Pengenalan bagian2 wordpress
- Security dalam wordpress


Semoga Bermanfaat ^^

Senin, 01 Oktober 2012

Tabir Pesona


Melihat pesonamu menggoda jiwaku
Menyibak pesonamu menambah keyakinanku
Menyingkap pesonamu menunjukkan keagungan-Nya
Menyelami pesonamu menginspirasi hidupku
Mendalami pesonamu memotivasi semangatku
Memaknai pesonamu menuntunku dalam hikmah
Memetik pesonamu menentramkan jiwaku

Berjuta pesona telah membuatmu menjadi istimewa
Keistimewaan yang membuat bidadari cemburu padamu
Kepedihan hidup tak boleh memudarkan pesonamu
Pesona itu harus dan terus menyala di balik kemuliaan akhlakmu
Naiki tangga kemuliaan dengan ketaatanmu
Tebarkan haruman cinta dalam pesonamu
Kau yang mempesona
Kaupun luar biasa
Raih surga-Nya dengan pesonamu

Jangan bersedih...
Kau yang dianugerahi kelembutan
Jangan khawatir...
Kau yang dianugerahi kekuatan jiwa
Jangan takut..
Kau yang dianugerahi keberanian
Jangan putus asa..
Kau yang dianugerahi kemuliaan
Bangkit...
Maju...
Segera...
Raih kebahagiaan
Gapai ketentraman
Nikmati hidupmu Dalam naungan-Nya
Wanita mulia
Wanita sholihah
Tulang rusuk itu



[Hendi Kurniah & Aka Abdi ; Wanita Seribu Pesona, hal. 2]

Wanita Seribu Pesona : "Lihatlah Ke Dalam Dirimu"

Inilah sosoknya, wanita diciptakan dengan maksud dan tujuan yang jelas. Kehadirannya bukan untuk dinistakan karena dia bukan diciptakan dari tulang kaki yang terletak di bawah, dia bukan untuk dihinakan atau diinjak-injak. Bukan pula dia diciptakan dari tulang tangan untuk dipekerjakan kesana kemari atau dieksploitasi untuk kepentingan kaum Adam. Dan sekali-sekali bukanlah hanya untuk disanjung-puji penuh kebasa-basian, karena dia bukan diciptakan dari tengkorak kepala. Namun ia bermula umpama dari tulang rusuk ; tulang yang posisinya ada di sisi badan, yang menutup organ-organ utama tubuh, dekat dengan dada dan hati yang berfungsi sebagai PENENTRAM JIWA suami dan anak-anaknya.

Semuanya kini bermula, dimulainya sejarah saling memahami, saling memerlukan dan saling mengisi kekurangan dengan kelebihan masing-masing. Maha Agung Allah atas segala keindahan penciptanya.



Hendi Kurniah dan Aka Abdi, Wanita Seribu Pesona : "Lihatlah Ke Dalam Dirimu" (Bangka Belitung: Telaga Inspirasi, 2009)

*SUBHANALLAH..
Jazakillah, terima kasih utk penulisny (Hendi Kurniah&Aka Abdi) dan utk pemilikny (Kak Echie) yg udh mw meminjamkan buku2ny ke saya.. Hehe ^_^v *

Minggu, 16 September 2012

KEPADA PUTRA-PUTRA ISLAM YANG PENUH SEMANGAT

Kepada kelompok ini, yang berkepribadian mulia, yang berhati jernih, yang bercita-cita tinggi, yang berjiwa terhormat, yang cinta bekerja, dan menjadi tumpuan harapan, dimana seorang penyair telah putus asa mendapatkan orang semacamnya:
Telah sekian lama ‘ku bergaul dengan banyak orang
pengalaman demi pengalaman menempaku
tiada hari datang kepadaku
kecuali menyenangkan di jumpa-jumpa pertama
namun menyakitkan jua di akhirnya
kami katakan, “Kalian kini berada di hadapan seruan dakwah yang baru. Kaum muda menyeru kalian untuk bekerja bersama mereka dan bergaul dengannya untuk menuju suatu tujuan, yang ia adalah cita-cita setiap muslim dan harapan setiap mukmin. Adalah hakmu bertanya tentang sejauh mana persediaan sarana operasional jamaah. Dan kewajibanmu pula untuk mengetahui lebih dalam apa-apa yang diserukannya kepadamu.
   Saya merasa kagum akan kejujuran dan ketulusan mereka untuk bergabung dengan jamaah kita. mereka minta penjelasan terhadap setiap kata dan setiap ungkapan kepada saya. Mereka mengkonsultasikan setiap sarana yang dipergunakan, hingga jika sudah merasa puas, mereka segera menyampaikan pesan-pesannya dengan keyakinan yang bulat, jelas maksudnya, dan riil pula dampaknya. Mereka senantiasa bekerja dengan kesungguhan yang penuh hingga saat ini, dan saya berharap akan terus begitu dengan izin Allah swt. Namun demikian, saya mempunyai beberapa catatan untuk mereka, antara lain:
     Daripada mereka membuang waktu untuk berbagai pertanyaan ini, bukankah lebih baik jika bergabung saja dengan jamaah dan bekerja didalamnya? Jika mereka melihat kebaikan disana, itulah yang semestinya. Namun jika selain itu yang dilihat, maka jalan untuk keluar dan melepaskan diri darinya demikian jelas membentang, apalagi pintunya ada di dua tempat: tempat masuk dan tempat keluar. Aktivitas jamaah begitu jelas, tidak ada yang tersembunyi dan tidak ada pula misterius. Dahulu ada cerita bahwa para ahli nahwu berselisih pendapat tentang jumlah bait Alfiyah (pelajaran nahwu yang dipuitisasikan ) Ibnu Malik. Perselisihan ini telah memancing perdebatan serius yang justru tidak mendatangkan manfaat apa pun, hingga akhirnya datanglah salah seorang tokoh mereka dengan membawa bukunya dan berkata, “Inilah dia, hitunglah dan sepakatlah.” maka dengan itulah perselisihan bisa diselesaikan.
   Inilah Jam’iyah Ikhwanul Muslimin, wahai sahabatku. Di setiap tempat, ia menyeru orang dan membuka pintunya lebar-lebar sembari berkata, “Marilah, jika anda lihat sesuatu yang menyenangkan hati, maka bergabunglah bersama dengan berkah Allah. Jika tidak melihat yang demikian, maka berkatalah sebagaimana yang dikatakan Basyar:
Jika suatu negeri mengingkari
Atau aku mengingkarinya
Aku pun segera keluar bersama burung-burung
Dan penduduknya
   Tidakkah mereka tahu bahwa jamaah itu tiada lain adalah sekumpulan individu yang terikat? Jika setiap individu bertanya dengan pertanyaan “Maka di manakah jamaah itu sebenarnya?” ini adalah tipuan logika belaka yang-sayangnya-banyak diikuti orang. Jika anda ingin mengenalkan kursi misalnya, anda akan mengatakan bahwa ia adalah benda yang terdiri dari tiga unsur tempat duduk, sandaran dan empat buah kaku. Akan tetapi, tahukah bahwa definisi seperti ini sesungguhnya tidak benar dan menipu belaka? Kenapa demikian, karena apakah benda itu sesuatu yang ada di luar ketiga unsur tersebut?  Jika anda pisahkan kursi itu dari kaki-kakinya, tempat duduk, dan sandarannya, apakah masih ada sebuah benda yang bisa diidentifikasi sebagai berwujud?
   Demikian juga, orang banyak tertipu dalam memahami hakekat jamaah dan individu. Mereka mengira bahwa jamaah itu sesuatu sedangkan individu adalah sesuatu yang lain. Padahal jamaah itu tidak lain kecuali kumpulan dari individu-individu, dan individu-individu itu adalah komponen bangunan jamaah itu sendiri. Apabila komponen bercerai-berai dan setiap mereka bertanya dengan pertanyaa “Lalu di mana jamaah itu?” siapa yang bertanya dan siapa yang ditanya? Kita sering memahami secara keliru seperti demikian ini disebabkan oleh kebiasaan kita bersikap kurang bertanggung jawab; kita menimpakan beban tanggung jawab hanya pada pundak seseorang. Berikutnya lahirlah sikap masa bodoh, tidak tahan uji menghadapi keadaan, dan tidak kunjungan melangkah lebih maju.
   Kami serukan kepada para putra Islam yang memiliki semangat bahwa seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. Maka haramlah hukumnya bagi orang semacam ini untuk tertinggal dari kafilah, meskipun sesaat. Dan tidakkah mereka memahami-semoga Allah memberinya dukungan-bahwa hendaknya mereka segera bergabung dengan jamah ini. Jika mereka menjumpai bahwa jamaah ini adalah jamaah yang aktif sebagaimana mestinya, maka berbahagialah. Namun jika merka tidak menjumpai yang demikian itu, tunjukkan kepribadian dan kekuatan pengaruhnya untuk membangun apa-apa yang seharusnya ada. Kalau ternyata apa yang mereka upayakan tidak bisa diterima, mereka telah mendapatkan pemakluman dari tuhan dan dirinya. Apalagi jika orang-orang yang  menyeru dakwah ini adalah kaum yang mengetahui bahwa diatas orang yang memiliki pengetahuan dan Dzat yang Mahatahu, dan bahwa setiap orang yang memiliki pendapat berhak menyampaikan pendapatnya. Lihatlah Rasulullah saw. Jika dibanding dengan manusia seluruhnya, pendapatnya adalah sebenar-benar pendapat dan pemikirannya adalah sematang-matang pemikiran, namun ia mengambil juga pendapat Hubaib ra. Di perang Badar dan pendapat Salam di perang khandaq. Mereka tentu saja sangat bahagia, karena ada yang mengambil pendapatnya untuk suatu pekerjaan yang benar.
   Tidakkah mereka mengetahui bahwa jika mereka telah mencoba sekali, dua kali, atau lebih dari itu, namun belum juga berhasil, janganlah putus asa. Mereka harus ‘memainkan bola’ terus-menerus sehingga menciptakan ‘gol’ pada saatnya. Jika mereka tergesa-gesa dan cepat putus asa, hilanglah kesempatannya untuk memperoleh keberuntungan itu.
   Hal ini persis sebagaimana kisah seorang pemburu ikan. Suatu saat ia mendapat ikan yang besar. Lalu ia melihat di dasar air itu ada rumah karang yang disangkanya mutiara. Demi melihat itu, ditinggalkanlah ikan yang sudah di tangan untuk mengambil rumah karang. Ketika ia melihat dari dekat, menyesallah hatinya. Kemudian ia melihat ikan kecil membawa mutiara, namun ia tidak mengacuhkannya karena disangka rumah karang. Akhirnya ia hanya mendapatkan ikan kecil, serta kehilangan ikan besar dan mutiara, sesuatu yang berlipat-lipat lebih berharga, atau seperti seekor itik di suatu danau. Ia melihat bayangan di dasar air yang disangkanya ikan. Ia berusaha menjulurkan paruhnya untuk mendapatkannya. Ia mematuknya berkali-kali hingga kecapaian lalu ditinggalkan dengan perasaan marah. Sejenak kemudian berlalulah ikan dihadapannya. Ia acuh tak acuh karena menganggapnya bayangan. Lalu ia pun meninggalkannya. Dengan begitu ia merugi dan kehilangan kesempatan berharga dan sirnalah pula harapannya.
   Inilah beberapa catatan, yang perlu saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin beraktivitas dalam Islam dari kalangan putra-putranya. Saya pikir ini patut direnungkan dalam-dalam. Kami serukan dakwah Ikhwanul Muslimin ini kepada mereka. Hendaklah mereka mencoba bergabung dengannya. Jika mereka mendapati kebaikan, dukunglah dan jika mendapati kebengkokan, luruskanlah. Jangan sampai percobaan mereka menjadi penghalang bagi kemajuan bersama. Saya berharap mereka menyaksikan pada diri Ikhwan pemandangan yang menentramkan hati-hati, insya Allah. Saya akan menyampaikan lagi sebagian keterangan pada kesempatan mendatang.

(Dimuat oleh harian Ikhwanul Muslimin, Edisi XV, 6 Jumadil Ula 1353 H)

TIGA PESAN IMAM AL GHOZALI UNTUK KAUM MUKMIN

Ada tiga pertanyaan besar yang harus kita jawab sebagai umat yang telah mengaku beragama islam. Pertanyaan itu adalah; pertama, sudah seberapa besarkan sholat kita selama ini berpengaruh kepada tingkah laku kita? Kedua, sudah seberapa besarkah puasa kita berpengaruh terhadap kita? Dan yang ketiga sudah seberapa besarkah shodaqoh kita selama ini? Tiga pertanyaan diatas cukup mudah untuk diucapkan. Tapi untuk menjawabnya memerlukan perenungan dari setiap pribadi kita masing-masing. Untuk pertanyaan yang pertama, seberapa besarkah pengaruh sholat kita berpengaruh kepada tingkah laku kita? Berkaitan dengan hal ini imam besar Syekh AL-Ghazali pernah berpesan kepada kita, “Jadikanlah sholat kita sebagai sarana untuk menambah kesabaran diri kita dalam menghadapi segala hal.” Termasuk bersabar dalam menghadapi masalah, musibah, maupun bersabar dalam menahan nafsu untuk berbuat maksiat. Coba kita renungkan bagaimana kita ketika sholat, sudah khusyuk apa belum, kemudian apa imbasnya amal utama kita ini dalam hidup kita. Apakah kita setelah melakukan sholat masih tetap mudah marah, tidak sabar, masih melakukan perbuatan maksiat atau sebaliknya menjadi mukmin yang sholeh dengan menjauhi semua pebuatan maksiat dan selalu bersabar dalam menghadapi semua ujian dari Alloh SWT.

Sebagaimana yang pertama untuk menjawab pertanyaan kedua ini perlu perenungan yang dalam pula. Sekarang mari kita renungkan kembali, bgaimanaah puasa kita selama ini, baik puasa wajib maupun puasa sunnah yang telah kita kerjakan. Apakah hanya sebatas menahan lapar dan dahaga atau lebih dari itu? Puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari/fajar/subuh hingga matahari terbenam/maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya. Makna puasa diatas sejalan dengan pesan Syekh AL-Ghazali yang berkata “jadikanlah puasa kita adalah puasa untuk menahan diri dari melakukan perbuatan dosa. Karena puasa yang terbaik adalah berpuasa untuk tidak melakukan perbuatan dosa”. Selama ini kita sering terjebak bahwa puasa hanyalah menahan diri ini untuk tidak makan da minum mulai dari terbitnya matahari hingga terbenam matahari. Padahal lebih dari itu pahala yang paling besar dari puasa adalah berpuasa untuk tidak melakukan perbuatan dosa selama hidup di dunia dalam rangka beribadah kepada Alloh. Ketiga, seberapa besarkah shodaqoh kita, apa yang kita shodaqohkan dan seberapa manfaat shodaqoh itu? Selama ini tentunya kita sudah melakukan amalan yang satu ini, entah seberapa besar yang telah kita keluarkan. Dan manfaatnya pastinya akan meringankan orang yang kita beri sedekah tersebut. Namun dalam shodaqoh kita sering terjebak pula bahwa shodaqoh itu hanyalah mengeluarkan sejumlah uang atau harta kepada orang lain. Berkaitan dengan amalan yang satu ini Imam Al-Ghazali berpesan kepada kita, “jadikanlah shodaqoh kita adalah shodaqoh untuk membantu meringankan penderitaan orang lain yang membutuhkan pertolongan kita”. Jadi shodaqoh itu maknanya luas, membantu orang tidak harus dengan uang, tapi banyak yang bisa kita lakukan unutk membantu orang lain. Jika ada orang sedang terkena musibah masalah keuangan, hutang misalnya, kita bisa bershodaqoh dengan membantu dia dengan mencoba membantu membayar hutang dia, jika ada orang sedang membutuhkan tenaga kita untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya, membangun rumah atau ada kematian misalnya, kita bershodaqoh dengan tenaga kita untuk meringankan beban mereka. Sekarang kita sudah memasuki penghujung bulan syawal, bulan yang dalam tradisi kita aadalah bulan untuk saling bermaafan. Tapi kita juga harus ingat penghujung tahun ini baik tahun qomariyah maupun tahun masehi sudah dekat. Untuk marilah kita merenung sejenak dengan tiga masalah diatas.

Kilas balik bulan puasa/ramadhan kemarin semua manusia yang beragama islam berudah drastis dari kebiasaan sebelum memasuki puasa. Yang tadinya belum shalat atau tidak rajin shalatnya menjadi hamba yang taat dalam menjalankan shalat baik shalat wajib maupun yang sunnah. Masjid yang tadinya sepi menjadi penuh sesak oleh jamaah untuk melakukan shalat berjamaah dimasjid. Orang-orang yang tadinya tidak pernah melakukan puasa menjadi hamba yang sangat antusias untuk melakukan ibadah wajib sebulan setiap tahun ini. Orang-orang kaya yang tadinya tidak pernah bersedekah pada bulan ramadhan berlomba-lomba untuk saling berbagi kepada kaum dhuafa’. Dan realita setelah bulan puasa selesai hamba-hamba yang tadinya taat selama sebulan ini masih tetap seperti bulan puasa taatnya atau sebaliknya, kembali ke kebiasaan mereka sebelum datangnya bulan puasa. Marilah kita renungkan masing-masing dan kita mulai lagi di akhir bulan syawal ini dengan meningkatkan ibadah sholat kita untuk menambah kesabaran, puasa kita untuk menahan diri dari berbuat dosa dan shodaqoh kita untuk membantu penderitaan orang lain. Karena tanda berhasilnya puasa di bulan Ramadhan kemarin adalah semakin bertambahnya ibadah hamba yang menjalankannya.


(Materi  liqo dari mbak Nadya F.F)