Powered By Blogger

Minggu, 16 September 2012

TIGA PESAN IMAM AL GHOZALI UNTUK KAUM MUKMIN

Ada tiga pertanyaan besar yang harus kita jawab sebagai umat yang telah mengaku beragama islam. Pertanyaan itu adalah; pertama, sudah seberapa besarkan sholat kita selama ini berpengaruh kepada tingkah laku kita? Kedua, sudah seberapa besarkah puasa kita berpengaruh terhadap kita? Dan yang ketiga sudah seberapa besarkah shodaqoh kita selama ini? Tiga pertanyaan diatas cukup mudah untuk diucapkan. Tapi untuk menjawabnya memerlukan perenungan dari setiap pribadi kita masing-masing. Untuk pertanyaan yang pertama, seberapa besarkah pengaruh sholat kita berpengaruh kepada tingkah laku kita? Berkaitan dengan hal ini imam besar Syekh AL-Ghazali pernah berpesan kepada kita, “Jadikanlah sholat kita sebagai sarana untuk menambah kesabaran diri kita dalam menghadapi segala hal.” Termasuk bersabar dalam menghadapi masalah, musibah, maupun bersabar dalam menahan nafsu untuk berbuat maksiat. Coba kita renungkan bagaimana kita ketika sholat, sudah khusyuk apa belum, kemudian apa imbasnya amal utama kita ini dalam hidup kita. Apakah kita setelah melakukan sholat masih tetap mudah marah, tidak sabar, masih melakukan perbuatan maksiat atau sebaliknya menjadi mukmin yang sholeh dengan menjauhi semua pebuatan maksiat dan selalu bersabar dalam menghadapi semua ujian dari Alloh SWT.

Sebagaimana yang pertama untuk menjawab pertanyaan kedua ini perlu perenungan yang dalam pula. Sekarang mari kita renungkan kembali, bgaimanaah puasa kita selama ini, baik puasa wajib maupun puasa sunnah yang telah kita kerjakan. Apakah hanya sebatas menahan lapar dan dahaga atau lebih dari itu? Puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari/fajar/subuh hingga matahari terbenam/maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya. Makna puasa diatas sejalan dengan pesan Syekh AL-Ghazali yang berkata “jadikanlah puasa kita adalah puasa untuk menahan diri dari melakukan perbuatan dosa. Karena puasa yang terbaik adalah berpuasa untuk tidak melakukan perbuatan dosa”. Selama ini kita sering terjebak bahwa puasa hanyalah menahan diri ini untuk tidak makan da minum mulai dari terbitnya matahari hingga terbenam matahari. Padahal lebih dari itu pahala yang paling besar dari puasa adalah berpuasa untuk tidak melakukan perbuatan dosa selama hidup di dunia dalam rangka beribadah kepada Alloh. Ketiga, seberapa besarkah shodaqoh kita, apa yang kita shodaqohkan dan seberapa manfaat shodaqoh itu? Selama ini tentunya kita sudah melakukan amalan yang satu ini, entah seberapa besar yang telah kita keluarkan. Dan manfaatnya pastinya akan meringankan orang yang kita beri sedekah tersebut. Namun dalam shodaqoh kita sering terjebak pula bahwa shodaqoh itu hanyalah mengeluarkan sejumlah uang atau harta kepada orang lain. Berkaitan dengan amalan yang satu ini Imam Al-Ghazali berpesan kepada kita, “jadikanlah shodaqoh kita adalah shodaqoh untuk membantu meringankan penderitaan orang lain yang membutuhkan pertolongan kita”. Jadi shodaqoh itu maknanya luas, membantu orang tidak harus dengan uang, tapi banyak yang bisa kita lakukan unutk membantu orang lain. Jika ada orang sedang terkena musibah masalah keuangan, hutang misalnya, kita bisa bershodaqoh dengan membantu dia dengan mencoba membantu membayar hutang dia, jika ada orang sedang membutuhkan tenaga kita untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya, membangun rumah atau ada kematian misalnya, kita bershodaqoh dengan tenaga kita untuk meringankan beban mereka. Sekarang kita sudah memasuki penghujung bulan syawal, bulan yang dalam tradisi kita aadalah bulan untuk saling bermaafan. Tapi kita juga harus ingat penghujung tahun ini baik tahun qomariyah maupun tahun masehi sudah dekat. Untuk marilah kita merenung sejenak dengan tiga masalah diatas.

Kilas balik bulan puasa/ramadhan kemarin semua manusia yang beragama islam berudah drastis dari kebiasaan sebelum memasuki puasa. Yang tadinya belum shalat atau tidak rajin shalatnya menjadi hamba yang taat dalam menjalankan shalat baik shalat wajib maupun yang sunnah. Masjid yang tadinya sepi menjadi penuh sesak oleh jamaah untuk melakukan shalat berjamaah dimasjid. Orang-orang yang tadinya tidak pernah melakukan puasa menjadi hamba yang sangat antusias untuk melakukan ibadah wajib sebulan setiap tahun ini. Orang-orang kaya yang tadinya tidak pernah bersedekah pada bulan ramadhan berlomba-lomba untuk saling berbagi kepada kaum dhuafa’. Dan realita setelah bulan puasa selesai hamba-hamba yang tadinya taat selama sebulan ini masih tetap seperti bulan puasa taatnya atau sebaliknya, kembali ke kebiasaan mereka sebelum datangnya bulan puasa. Marilah kita renungkan masing-masing dan kita mulai lagi di akhir bulan syawal ini dengan meningkatkan ibadah sholat kita untuk menambah kesabaran, puasa kita untuk menahan diri dari berbuat dosa dan shodaqoh kita untuk membantu penderitaan orang lain. Karena tanda berhasilnya puasa di bulan Ramadhan kemarin adalah semakin bertambahnya ibadah hamba yang menjalankannya.


(Materi  liqo dari mbak Nadya F.F)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar