Ada tiga pertanyaan besar yang
harus kita jawab sebagai umat yang telah mengaku beragama islam.
Pertanyaan itu adalah; pertama, sudah seberapa besarkan sholat kita
selama ini berpengaruh kepada tingkah laku kita? Kedua, sudah
seberapa besarkah puasa kita berpengaruh terhadap kita? Dan
yang ketiga sudah seberapa besarkah shodaqoh kita selama
ini? Tiga pertanyaan diatas cukup mudah untuk diucapkan. Tapi
untuk menjawabnya memerlukan perenungan dari setiap pribadi
kita masing-masing. Untuk pertanyaan yang pertama, seberapa
besarkah pengaruh sholat kita berpengaruh kepada tingkah laku kita?
Berkaitan dengan hal ini imam besar Syekh AL-Ghazali pernah berpesan
kepada kita, “Jadikanlah sholat kita sebagai sarana untuk menambah
kesabaran diri kita dalam menghadapi segala hal.” Termasuk bersabar
dalam menghadapi masalah, musibah, maupun bersabar dalam
menahan nafsu untuk berbuat maksiat. Coba kita renungkan bagaimana
kita ketika sholat, sudah khusyuk apa belum, kemudian apa imbasnya
amal utama kita ini dalam hidup kita. Apakah kita setelah melakukan
sholat masih tetap mudah marah, tidak sabar, masih melakukan
perbuatan maksiat atau sebaliknya menjadi mukmin yang sholeh dengan
menjauhi semua pebuatan maksiat dan selalu bersabar dalam menghadapi
semua ujian dari Alloh SWT.
Sebagaimana yang pertama untuk menjawab
pertanyaan kedua ini perlu perenungan yang dalam pula. Sekarang mari kita
renungkan kembali, bgaimanaah puasa kita selama ini, baik puasa wajib maupun
puasa sunnah yang telah kita kerjakan. Apakah hanya sebatas menahan lapar dan
dahaga atau lebih dari itu? Puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut
syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT
dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang
dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari/fajar/subuh hingga matahari
terbenam/maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya. Makna puasa diatas
sejalan dengan pesan Syekh AL-Ghazali yang berkata “jadikanlah puasa kita
adalah puasa untuk menahan diri dari melakukan perbuatan dosa. Karena puasa
yang terbaik adalah berpuasa untuk tidak melakukan perbuatan dosa”. Selama ini
kita sering terjebak bahwa puasa hanyalah menahan diri ini untuk tidak makan da
minum mulai dari terbitnya matahari hingga terbenam matahari. Padahal lebih
dari itu pahala yang paling besar dari puasa adalah berpuasa untuk tidak
melakukan perbuatan dosa selama hidup di dunia dalam rangka beribadah kepada
Alloh. Ketiga, seberapa besarkah shodaqoh kita, apa yang kita shodaqohkan dan
seberapa manfaat shodaqoh itu? Selama ini tentunya kita sudah melakukan amalan
yang satu ini, entah seberapa besar yang telah kita keluarkan. Dan manfaatnya
pastinya akan meringankan orang yang kita beri sedekah tersebut. Namun dalam
shodaqoh kita sering terjebak pula bahwa shodaqoh itu hanyalah mengeluarkan
sejumlah uang atau harta kepada orang lain. Berkaitan dengan amalan yang satu
ini Imam Al-Ghazali berpesan kepada kita, “jadikanlah shodaqoh kita adalah
shodaqoh untuk membantu meringankan penderitaan orang lain yang membutuhkan
pertolongan kita”. Jadi shodaqoh itu maknanya luas, membantu orang tidak harus
dengan uang, tapi banyak yang bisa kita lakukan unutk membantu orang lain. Jika
ada orang sedang terkena musibah masalah keuangan, hutang misalnya, kita bisa
bershodaqoh dengan membantu dia dengan mencoba membantu membayar hutang dia,
jika ada orang sedang membutuhkan tenaga kita untuk membantunya menyelesaikan
pekerjaannya, membangun rumah atau ada kematian misalnya, kita bershodaqoh
dengan tenaga kita untuk meringankan beban mereka. Sekarang kita sudah memasuki
penghujung bulan syawal, bulan yang dalam tradisi kita aadalah bulan untuk
saling bermaafan. Tapi kita juga harus ingat penghujung tahun ini baik tahun
qomariyah maupun tahun masehi sudah dekat. Untuk marilah kita merenung sejenak
dengan tiga masalah diatas.
Kilas balik bulan puasa/ramadhan kemarin
semua manusia yang beragama islam berudah drastis dari kebiasaan sebelum
memasuki puasa. Yang tadinya belum shalat atau tidak rajin shalatnya menjadi
hamba yang taat dalam menjalankan shalat baik shalat wajib maupun yang sunnah.
Masjid yang tadinya sepi menjadi penuh sesak oleh jamaah untuk melakukan shalat
berjamaah dimasjid. Orang-orang yang tadinya tidak pernah melakukan puasa
menjadi hamba yang sangat antusias untuk melakukan ibadah wajib sebulan setiap
tahun ini. Orang-orang kaya yang tadinya tidak pernah bersedekah pada bulan
ramadhan berlomba-lomba untuk saling berbagi kepada kaum dhuafa’. Dan realita
setelah bulan puasa selesai hamba-hamba yang tadinya taat selama sebulan ini
masih tetap seperti bulan puasa taatnya atau sebaliknya, kembali ke kebiasaan
mereka sebelum datangnya bulan puasa. Marilah kita renungkan masing-masing dan
kita mulai lagi di akhir bulan syawal ini dengan meningkatkan ibadah sholat
kita untuk menambah kesabaran, puasa kita untuk menahan diri dari berbuat dosa
dan shodaqoh kita untuk membantu penderitaan orang lain. Karena tanda
berhasilnya puasa di bulan Ramadhan kemarin adalah semakin bertambahnya ibadah
hamba yang menjalankannya.
(Materi liqo dari mbak Nadya F.F)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar