Teriknya matahari tak menyurutkan semangat
para peserta Pawai Tebar Jilbab pada Jum’at, 7 September 2012 lalu. Agenda yang
diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UNJ dan bekerjasama dengan Lembaga
Dakwah Fakultas (LDF) se-UNJ ini diikuti oleh hampir 40 mahasiswa muslim dari
berbagai fakultas. Tidak hanya kaum wanita, kaum laki-laki pun turut
berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena sejatinya mereka juga memiliki tanggung
jawab terhadap ibu, saudara perempuannya serta istri dan anaknya kelak agar
senantiasa menjaga auratnya dari yang bukan mahram dan mengenakan jilbab sesuai
ajaran Islam.
Sekitar sebulan sebelum Pawai Tebar Jilbab
ini dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan aksi penggalangan dana “One Man, One
Hijab” dengan mendonasikan uang sejumlah minimal Rp 20.000,- dan atau
mendonasikan sejumlah jilbab. “Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli
jilbab yang akan diberikan kepada 568 orang mahasiswi baru yang telah didata di
setiap fakultas dan kepada beberapa masyarakat sekitar yang masih belum
berjilbab”, ungkap Rafika Nurulita, Kepala Keputrian LDK UNJ 2012/2013.
Pawai
Tebar Jilbab digelar dalam rangka memperingati International Hijab Solidarity
Day (IHSD) yang diperingati setiap tanggal 4 September. IHSD ini sendiri
awalnya diprakarsai oleh para pemeluk Islam di 4 negara, yaitu Perancis,
Jerman, Tunisia, dan Turki yang dahulu para muslimah berjilbab di Negara
tersebut terseringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan. Bahkan, pada tanggal
4 September 2002, Perancis resmi melarang penggunaan jilbab bagi warganya. Hal
itu tentu saja menyulitkan muslimah untuk menutup aurat sebagai ekspresi
keimanan mereka. Karena itu, pada tanggal 4 September 2004 diadakanlah
konfrensi di London yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof. Tariq R,
dan juga 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris International, yang kemudian
menghasilkan keputusan untuk memberikan dukungan penuh penggunaan jilbab bagi
para muslimah, penetapan tanggal 4 September sebagai hari solidaritas jilbab
internasional (IHSD), serta rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah
sedunia untuk mempertahankan busana takwanya.
Pawai Tebar Jilbab yang diadakan di UNJ
dimulai pada pukul 13:30. Pawai diawali dengan orasi di depan Majid Ulul Albab
(MUA) kampus B UNJ. Massa kemudian berjalan melewati daerah Sunan Giri hingga
sampai di kampus A UNJ sekitar pukul 14:00. Di kampus A pawai berhenti di
setiap Fakultas untuk dilakukan orasi kembali, mulai dari Fakultas Ilmu
Pendidikan, Ekonomi, Teknik, Ilmu Sosial, dan berakhir di Fakultas Bahasa dan Seni.
Tidak sekedar diisi dengan orasi, sesuai namanya, dalam Pawai Tebar Jilbab ini
juga dilakukan pembagian jilbab secara gratis kepada beberapa mahasiswa baru
yang belum berjilbab di setiap fakultas sebagai sombolisasi serta pembagian
stiker dukungan berjilbab dan leaflet yang berisi tutorial jilbab sesuai
syari’at Islam atau yang biasa disebut
jilbab syar’i.
Setelah pawai selesai, pada pukul 16:00 para
mahasiswi UNJ diajak lagi untuk menyaksikan secara langsung bagaimana caranya
menggunakan jilbab syar’i. Kegiatan tutorial jilbab syar’i yang merupakan
bagian dari rangkaian pawai tebar jilbab di UNJ yang bekerjasama dengan
komunitas Peduli Jilbab ini dihadiri oleh sekitar 50 orang mahasiswi. “Kami berharap
dengan adanya rangkaian kegiatan ini para mahasiswa serta masyarakat sekitar
semakin mengerti tentang pentingnya
berjilbab dan bagaimana berjilbab syar’i. sehingga kemudian yang belum
berjilbab mau mulai menggunakan jilbab dan bagi yang sudah berjilbab dapat
mengaplikasikan jilbab syar’i”, ungkap Rafika.
Semoga rangkaian kegiatan syi’ar jilbab ini
dapat membangkitkan semangat para muslimah untuk terus mempelajari Islam dan
bangga dengan jilbab sebagai identitas muslimah. Karena sesungguhnya jilbab
bukanlah sekedar pilihan, namun merupakan kewajiban serta bentuk penghargaan
tertinggi untuk muslimah sejati. (Khoi)



baguuuus....
BalasHapustapi sedih gak jadi dipake tulisannya.. hiks~ T_T
Hapus