Powered By Blogger

Sabtu, 15 September 2012

Pawai Tebar JIlbab; Syi'ar Jilbab Kampus Pendididikan


Teriknya matahari tak menyurutkan semangat para peserta Pawai Tebar Jilbab pada Jum’at, 7 September 2012 lalu. Agenda yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UNJ dan bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) se-UNJ ini diikuti oleh hampir 40 mahasiswa muslim dari berbagai fakultas. Tidak hanya kaum wanita, kaum laki-laki pun turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena sejatinya mereka juga memiliki tanggung jawab terhadap ibu, saudara perempuannya serta istri dan anaknya kelak agar senantiasa menjaga auratnya dari yang bukan mahram dan mengenakan jilbab sesuai ajaran Islam.
Sekitar sebulan sebelum Pawai Tebar Jilbab ini dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan aksi penggalangan dana “One Man, One Hijab” dengan mendonasikan uang sejumlah minimal Rp 20.000,- dan atau mendonasikan sejumlah jilbab. “Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli jilbab yang akan diberikan kepada 568 orang mahasiswi baru yang telah didata di setiap fakultas dan kepada beberapa masyarakat sekitar yang masih belum berjilbab”, ungkap Rafika Nurulita, Kepala Keputrian LDK UNJ 2012/2013.
Pawai Tebar Jilbab digelar dalam rangka memperingati International Hijab Solidarity Day (IHSD) yang diperingati setiap tanggal 4 September. IHSD ini sendiri awalnya diprakarsai oleh para pemeluk Islam di 4 negara, yaitu Perancis, Jerman, Tunisia, dan Turki yang dahulu para muslimah berjilbab di Negara tersebut terseringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan. Bahkan, pada tanggal 4 September 2002, Perancis resmi melarang penggunaan jilbab bagi warganya. Hal itu tentu saja menyulitkan muslimah untuk menutup aurat sebagai ekspresi keimanan mereka. Karena itu, pada tanggal 4 September 2004 diadakanlah konfrensi di London yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof. Tariq R, dan juga 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris International, yang kemudian menghasilkan keputusan untuk memberikan dukungan penuh penggunaan jilbab bagi para muslimah, penetapan tanggal 4 September sebagai hari solidaritas jilbab internasional (IHSD), serta rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah sedunia untuk mempertahankan busana takwanya.


Pawai Tebar Jilbab yang diadakan di UNJ dimulai pada pukul 13:30. Pawai diawali dengan orasi di depan Majid Ulul Albab (MUA) kampus B UNJ. Massa kemudian berjalan melewati daerah Sunan Giri hingga sampai di kampus A UNJ sekitar pukul 14:00. Di kampus A pawai berhenti di setiap Fakultas untuk dilakukan orasi kembali, mulai dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Ekonomi, Teknik, Ilmu Sosial, dan berakhir di Fakultas Bahasa dan Seni. Tidak sekedar diisi dengan orasi, sesuai namanya, dalam Pawai Tebar Jilbab ini juga dilakukan pembagian jilbab secara gratis kepada beberapa mahasiswa baru yang belum berjilbab di setiap fakultas sebagai sombolisasi serta pembagian stiker dukungan berjilbab dan leaflet yang berisi tutorial jilbab sesuai syari’at Islam atau yang biasa disebut  jilbab syar’i.
Setelah pawai selesai, pada pukul 16:00 para mahasiswi UNJ diajak lagi untuk menyaksikan secara langsung bagaimana caranya menggunakan jilbab syar’i. Kegiatan tutorial jilbab syar’i yang merupakan bagian dari rangkaian pawai tebar jilbab di UNJ yang bekerjasama dengan komunitas Peduli Jilbab ini dihadiri oleh sekitar 50 orang mahasiswi. “Kami berharap dengan adanya rangkaian kegiatan ini para mahasiswa serta masyarakat sekitar semakin mengerti  tentang pentingnya berjilbab dan bagaimana berjilbab syar’i. sehingga kemudian yang belum berjilbab mau mulai menggunakan jilbab dan bagi yang sudah berjilbab dapat mengaplikasikan jilbab syar’i”, ungkap Rafika.
Semoga rangkaian kegiatan syi’ar jilbab ini dapat membangkitkan semangat para muslimah untuk terus mempelajari Islam dan bangga dengan jilbab sebagai identitas muslimah. Karena sesungguhnya jilbab bukanlah sekedar pilihan, namun merupakan kewajiban serta bentuk penghargaan tertinggi untuk muslimah sejati. (Khoi)


2 komentar: