Masih ingatkah kita akan
peristiwa perang shiffin dan perang jamal? Kisah yang dapat banyak
memberikan manfaat bagi kita dalam upaya menebarkan kebaikan. Mari kita
buka kembali ingatan kita akan sejarah besar tersebut. Kisah yang telah
banyak di kaburkan orisinalitasnya oleh kaum orientalis dan seluruh
pihak yang selalu berusaha untuk menghancurkan Dakwah Islam.
Kisah
ini bermula dengan hadirnya seorang tokoh sentral yang menjadi
penggerak dan pemeran utamanya. Dia adalah Abdullah bin Saba’, seorang
Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam, jelas dengan tujuan untuk memecah-belah umat Islam
ketika itu. Dalam aksinya, Abdullah bin Saba’ berhasil ‘mengkader’
beberapa kaum Muslimin untuk menjalankan ‘manhaj’ dan ‘harokah’ nya.
Mayoritas mereka yang ‘terbina’ oleh Abdullah bin Saba’ adalah kaum
Muslimin yang baru masuk Islam. Selain itu, Abdullah bin Saba’ pun mendapat dukungan dari para kaum munafik (munafiqqun) yang tidak betah dengan perkembangan Islam.
Pergerakan
Abdullah bin Saba’ beserta beberapa kadernya yang pertama adalah
berusaha memprovokasi Ali bin Abi Thalib untuk mengambil alih jabatan
khalifah yang ketika itu masih diamanahkan kepada Utsman bin Affan.
Namun, upaya ini gagal, bahkan beberapa kader Abdullah bin Saba’
berhasil dibunuh oleh kaum Muslimin dengan arahan dari Ali bin Abi
Thalib. Hal ini menyebabkan Abdullah bin Saba’ mengungsi ke Mesir.
Selanjutnya,
upaya yang dilakukan Abdullah bin Saba’ adalah memprovokasi beberapa
penduduk Mesir untuk membunuh Khalifah Utsman bin Affan. Mereka
(penduduk Mesir) terprovokasi oleh berita miring (gosip) seputar
Kepemimpinan Utsman bin Affan yang dipropagandakan oleh Abdullah bin
Saba’. Namun, upaya yang dilakukannya ini pun kembali gagal, mereka
(penduduk Mesir) tidak jadi membunuh Utsman manakala telah bertemu dan
mendapat penjelasan secara langsung dari Sang Khalifah dan para Sahabat
yang lainnya yang tahu betul apa yang sesungguhnya terjadi, hingga
mereka (penduduk Mesir) pun sadar telah ditipu mentah-mentah oleh
Abdullah bin Saba’.
‘Ikhtiar’ Ibnu Saba’ (Abdullah bin Saba’)
ternyata tidak berhenti, dia tidak kehabisan akal untuk terus berusaha
memecah belah umat Islam, baik itu dengan membuat surat
palsu seolah-olah Utsman memerintahkan kepada gubernur Mesir untuk
membunuh rombongan yang hendak membunuhnya agar terkesan Utsman
‘membalas dendam’ kepada mereka, hingga pada puncaknya dia berhasil
mendorong seluruh kadernya, baik itu dari kalangan Muslim maupun munafiqqun untuk membunuh Utsman dengan provokasi dan propaganda yang lebih besar.
Hasil ini (pembunuhan Utsman) ternyata tidak membuat Ibnu Saba’ berhenti ‘berkreasi’ memecah-belah umat Islam.
Pasca terbunuhnya Utsman, Ali bin Abi Thalib kemudian diangkat menjadi
Khalifah, namun masih ada sedikit perbedaan pendapat dikalangan para
sahabat terkait penyikapan mereka terhadap para pembunuh Utsman.
Pendapat pertama datang dari ‘Aisyah, Thalhah, Zubair, Muawiyyah, dan
sebagainya. Mereka menuntut untuk segera memberikan hukum qishas kepada para pembunuh Utsman. Namun, Khalifah Ali bin Abi Thalib memilih untuk menundanya dengan 2 ijtihad, yaitu negara dalam keadaan kacau sehingga perlu ditertibkan dahulu dan para pembunuh Utsman sebagian adalah kaum munafiqqun dan sebagian lagi kaum Muslimin yang termakan provokasi, sehingga Ali butuh kepastian diantaranya.
Kondisi
ini dimanfaatkan oleh Ibnu Saba’ dan pasukannya, terlebih ketika
perbedaan pendapat itu semakin ‘memanas’ hingga perlu diadakan pertemuan
khusus antara Khalifah Ali beserta pasukannya dan ‘Aisyah, Thalhah,
Zubair, dan pasukannya. Awalnya mereka yang sudah ‘panas’ dengan
perbedaan tersebut hendak berperang akibat provokasi yang dilancarkan
oleh pasukan Ibnu Saba’. Namun, Allah berkehendak lain, mereka (Ali,
‘Aisyah, dan sebagainya) tidak jadi berperang dan lebih memilih untuk
berdiskusi dalam memutuskan sikap para Sahabat terhadap para pembunuh
Utsman.
Diskusi yang berjalan pun akhirnya memutuskan untuk segera memberikan hukuman qishas
kepada para pembunuh Utsman. Berita ini ternyata telah diketahui oleh
Ibnu Saba’ dan pasukannya, sehingga membuat mereka gelisah dan
merencanakan sebuah ‘rekayasa’ peperangan diantara para Sahabat. Ketika
malam hari, dimana para Sahabat dan pasukan mereka sedang beristirahat,
pasukan Ibnu Saba’ melancarkan aksinya. Mereka menyerang pasukan
‘Aisyah, Thalhah, Zubair, dan sebagainya hingga menimbulkan kegaduhan
dan keributan yang luar biasa. Ketika pasukan ‘Aisyah berusaha mencari
tahu siapa yang menyerang mereka, munculah wacana dari pasukan Ibnu
Saba’ bahwa yang menyerang mereka (pasukan ‘Aisyah) adalah pasukan Ali.
Mendengar berita tersebut, pasukan ‘Aisyah lantas langsung menyerang
pasukan Ali yang sedang beristirahat. Hal tersebut membuat pasukan Ali
menjadi panik dan bertanya-tanya, siapakah yang menyerang mereka? Dengan
langkah yang taktis dan wacana yang meyakinkan, pasukan Ibnu Saba’
menjelaskan bahwa pasukan Ali telah diserang oleh pasukan ‘Aisyah.
Akhirnya perang jamal (unta) pun tidak dapat dihindarkan.
Meraka
yang ‘totalitas’ dalam perang jamal adalah para prajurit yang termakan
provokasi yang dilancarkan oleh pasukan Ibnu Saba’, sedangkan para
Sahabat (Ali, ‘Aisyah, Thalhah, Zubair, dan sebagainya) cenderung
menahan diri dan bersikap secukupnya saja, karena mereka teringat akan
hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa akan timbul peperangan yang
terjadi diantara para Sahabat Rasul. Perang jamal ini dimenangkan oleh
pasukan Ali dan menyebabkan dua sahabat yang dijamin masuk surga,
Thalhah dan Zubair menjemput syahidnya.
Pasca perang jamal,
kondisi yang seharusnya menjadi lebih baik ternyata malah bertambah
kacau. Terlebih ketika Sahabat Rasul lainnya yang menjadi Gubernur di
Damaskus, Muawiyyah menggerakkan pasukannya ke pusat pemerintahan
Khalifah Ali untuk menuntut segera memberikan hukuman qishas
bagi para pembunuh Utsman. Dengan kondisi yang masih kacau, Khalifah Ali
memerintahkan pasukannya untuk memberikan penjelasan dan ‘menahan’
pasukan Muawiyyah agar tidak masuk ke pusat pemerintahan secara
besar-besaran yang dikhawatirkan justru akan memperkeruh suasana. Namun,
takdir Allah berkata lain, pertemuan pasukan Ali dan Muawiyyah di salah
satu daerah yang dinamakan Shiffin justru menghasilkan perang saudara
yang tidak diharapakan. Perang Shiffin dimenangkan oleh pasukan Ali dan
berakhir dengan gencatan senjata.
Dari kedua perang inilah,
khususnya perang shiffin, para Ulama berpendapat sebagai awal mula
terbentuknya beberapa sekte dalam Islam. Hal ini terjadi karena ada
sebagian kecil umat Islam ketika itu yang tidak puas dengan sikap dan
keputusan Ali dan Muawiyyah. Sekte-sekte tersebut yang lebih dikenal
dengan golongan khawarij, yaitu golongan yang mengkafirkan
saudaranya sesama Muslim (ketika itu Ali dan Muawiyyah yang dikafirkan),
padahal mereka termasuk orang-orang yang dijamin masuk surga oleh
Allah.
Selanjutnya, apa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah kedua perang tersebut?
1) Selalu ada tokoh utama dalam setiap pergerakan untuk memecah belah umat Islam dalam upaya penegakan kalimat Allah di muka bumi. Maka seorang Qiyadah (pemimpin) sebaiknya dapat secara bijak dan tegas dalam menyikapi keberadaan para tokoh utama tersebut. Sedangkan seorang Jundi
(pasukan) sebaiknya tidak mudah terprovokasi oleh bujukan setan yang
berusaha untuk menjadikan hawa nafsu ataupun obsesi diri kita menjadi
pemimpin bagi kehidupan kita, sebagaimana Allah sudah mengingatkan kita
dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon (25) ayat 43-44,
“Sudahkah
engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai
Tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Atau apakah engkau
mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu
hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.”
2) Setiap musuh Islam akan terus berusaha untuk melawan Dakwah Islam dengan jaringan kerja yang rapi, sebagaimana kita telah pahami bersama dalam beberapa materi Tarbiyah dan Dakwah kita, seperti Ahwaal Al-Muslimin Al-Yaum (Kondisi Umat Islam saat ini), Hizbusy Syaithan (Golongan Setan), Al-Ghazwu Al-Fikri (Perang Pemikiran), Al-Haq wa Al-Bathil, hingga Zionisme Internasional. Inilah pentingnya kita memahami secara mendalam pesan yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib, “Kejahatan yang terstruktur dengan baik, dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur dengan baik.” Serta Al-Qur’an Surat Ash-Shaff (61) ayat 4,
“Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalanNya dalam barisan
yang teratur, mereka seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh.”
3) Objek provokasi ataupun propaganda yang dilancarkan oleh musuh Islam
biasanya adalah orang-orang marjinal, miskin, lemah, papa, dan hidup
susah. Serta memiliki sikap dengan tempramen kasar, nekad, tidak kenal
basa-basi, dan berpikir pragmatis (jangka pendek). Terlebih jika akses
informasi yang mereka dapatkan sangatlah minim tentang kebenaran yang
sesungguhnya. Hal seperti ini sudah sering kita dengar dari para Ulama
yang perlu perjuangan keras untuk mengantisipasi kristenisasi di beberapa daerah miskin. Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih banyak mencari kebenaran dalam pandangan Islam ketimbang pembenaran yang banyak dibuat-buat oleh setan dan musuh Islam.
Serta alangkah indahnya jika kita dapat saling menahan diri untuk tidak
saling menghujat saudara kita dan berusaha untuk saling mengingatkan
dalam hal kebajikan dan kesabaran, sebagaimana Allah mengingatkan kita
dalam Al-Qur’an Surat Al-Ashr (103),
“Demi masa. Sungguh
manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerajakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan
saling menasihati untuk kesabaran.”
4) Menjadi fitrah bahwa segala aktifitas Dakwah Islam akan selalu diiringi oleh berbagai ujian, baik itu yang menimpa pribadi para Aktifis Dakwahnya ataupun Jamaah Dakwahnya. Ujian yang datang kepada pribadi aktifis Dakwahnya
dapat disikapi dengan kembali kepada dua pedoman utama yang Rasulullah
pesan kepada kita, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan jika ujian
itu datang kepada Jamaah Dakwah, maka sebaiknya para
pasukan senantiasa taat kepada pemimpin mereka dan keputusan syuro dalam
proses pengambilan keputusan bersama. Mengapa demikian?
Karena
pada kisah di atas kita dapat menyaksikan bagaimana Allah memberikan
kemenangan kepada pasukan Khalifah Ali dalam perang Jamal (‘Aisyah)
maupun perang Shiffin (Muawiyyah). Hal ini menjelaskan bahwa Allah
senantiasa bersama pemimpin Jamaah Dakwah yang solid. Serta Rasulullah pun telah mengingatkan kita bahwa, “Umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan.”
Maksudnya adalah segala keputusan syuro yang dihasilkan dengan
adab-adab syuro yang sesuai syariat, maka tidak mungkin menghasilkan
keputusan yang buruk.
Pada akhirnya, marilah kita tadabburi bersama Al-Qur’an Surat Al-Fath (48) ayat 28,
“Dialah
yang mengutus RasulNYa dengan membawa petunjuk dan agama yang benar,
agar dimenangkanNya, terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai
saksi.”
Dan Al-Qur’an Surat Ash-Shaff (61) ayat 9,
“Dialah
yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar,
untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik
membencinya.”
Dengan dua ayat di atas Alah telah memberikan petunjuk kepada kita bahwa Kemenangan Islam
sudah menjadi keniscayaan. Tinggal kita kembalikan lagi kepada diri
kita, apakah kita ingin menjadi bagian dari Kemenangan tersebut atau
justru terus berusaha untuk melawan arus kehidupan yang telah Allah
tetapkan? Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan, keteguhan, dan
kebersamaan dalam menjalani aktifitas Dakwah yang terus kita perjuangkan.
Wallahu’alam bishawab.
http://shandydf.wordpress.com/2011/07/26/persatuan-islam-hikmah-perang-shiffin-dan-perang-jamal/