Powered By Blogger

Minggu, 05 Januari 2014

TBVH #1

Jujur sejujur-jujurnya..
Selalu ada luka yang tertinggal dari tiap periode yang dijalani. Selalu ada ketakutan untuk memulai kembali. Dan bukan hal yang mudah untuk mengobatinya. Tapi berhenti bukan cara yang tepat. Memang lelah, memang sakit untuk terus berjalan sembari menahan luka yang masih menganga, tapi setidaknya kelelahan dan kesakitan itu pertanda bahwa aku masih sanggup berjalan, dan hidup! Karena berhenti justru berarti mati.

Bismillah.. Hanya berharap semoga Allah tetap menguatkan dan mengistiqomahkanku di jalan ini.



12:05 am
050114

Sabtu, 18 Mei 2013

#3

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

 “Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh."

 --Tere Liye, novel "Negeri Di Ujung Tanduk", Gramedia Pustaka Utama

#2

“Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga.”

 — Tere Lije, novel "Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah"

#1

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
 


— Tere Liye, novel ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin’

Selasa, 12 Februari 2013

~

Sajak-sajak keputusasaan kembali menyeruak memenuhi ruang pengap berukuran  3x3 meter itu. Menulis, menulis, dan terus menulis. Seperti orang kerasukan, yang dia tahu hanya menulis dan terus menulis. Entah akan terhenti dimana bait-bait sajak itu. “ALLAH.. ALLAH.. ALLAH..”, dalam kalutnya masih terdengar lirih nama Agung itu terus diucapkannya dalam relung hati. Ya! Allah, satu-satunya Tuhan yang ia tahu. Satu-satunya Tuhan yang ia punya. Satu-satunya zat yang ia harap dapat meredakan kemelut hidupnya. Satu-satunya, satu-satunya tempat ia bertumpu dan mengadukan keputusasaan, kekecewaan, kesedihan, kekhawatiran, dan segala rasa yang menyergap batinnya kini.


______________________________________________________________________________________



Hingga akhirnya kini tulisannya telah terhenti, tak ada lagi kata yang tersisa dalam semestanya. Hanya ada satu yang takkan habis, takkan hilang, dan selalu abadi baginya; ALLAH. Tempatnya kini menyerahkan segala hidup hingga mati kelak.




"Sesakit apapun, aku tetap percaya pada Keagungan Takdir-Mu.."




120213
2:28 pm